Pada hari Jumat, 29 Maret 2024 telah dilaksanakan acara kolaborasi...
Home » Kuliah Praktisi “Produksi Bahan Alam di Industri Farmasi” Digelar Secara Daring oleh STIKES Samarinda
SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) Program Studi Diploma III Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Samarinda menggelar kuliah praktisi bertajuk “Produksi Bahan Alam di Industri Farmasi” pada Sabtu, 16 Mei 2025. Kegiatan berlangsung secara live melalui Zoom Meeting mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA. Acara diawali dengan sambutan Ketua Panitia yang juga Ketua Program Studi DIII Farmasi STIKES Samarinda, Siti Jubaidah, Siti menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terselenggaranya kuliah praktisi ini.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga melihat secara nyata bagaimana proses produksi bahan alam di industri farmasi. Kuliah praktisi ini adalah jembatan antara dunia akademik dan dunia kerja. Saya berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk bertanya, berdiskusi, dan menggali wawasan dari narasumber yang berpengalaman,” ujar Siti Jubaidah.
Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Ketua STIKES Samarinda, Supomo. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya penguatan kompetensi mahasiswa di bidang bahan alam mengingat kekayaan hayati Indonesia yang melimpah. “Indonesia adalah negara megabiodiversity dengan ribuan jenis tumbuhan berkhasiat obat. STIKES Samarinda berkomitmen untuk terus mendukung pembelajaran yang berbasis pada kearifan lokal dan kebutuhan industri. Kuliah praktisi ini adalah salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut. Saya secara resmi membuka kegiatan ini dan mengucapkan selamat mengikuti perkuliahan kepada seluruh peserta,” tutur Supomo.
Setelah pembukaan, acara memasuki sesi inti yang menghadirkan narasumber Agus Santosa owner dan apoteker penanggungjawab dari CV. Herbal Indo Utama (HIU) Group. Agus Santosa juga aktif di sejumlah organisasi profesi, antara lain Himpunan Apoteker Seminat Obat Tradisional (Himastra) Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia, GP Jamu (Gabungan Pengusaha Jamu), Perkosmi (Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia), serta GAPMMI (Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia).
Dalam paparannya, Agus Santosa menyoroti kekayaan hayati Indonesia. Indonesia memiliki lebih dari 30.000 jenis tumbuhan, di mana 9.600 di antaranya bermanfaat dan 300 jenis digunakan sebagai bahan baku obat dan obat tradisional. Dari sektor laut, Indonesia memiliki 8.500 spesies ikan, 950 spesies biota terumbu karang, dan 555 spesies rumput laut.
Berbagai bagian tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat bahan alam meliputi bunga (cengkeh), daun (katuk), buah (mengkudu), kulit buah (manggis), biji (pala), batang (brotowali), kulit batang (kayu manis), herba (pegagan), rimpang (jahe), hingga umbi (bawang). “Selain tumbuhan, bahan alam juga berasal dari mineral seperti belerang dan seng, serta hewan seperti ikan, teripang, sarang walet, dan cacing tanah.” Ujar Agus
Narasumber memaparkan sejumlah keunikan bahan baku alam, antara lain lebih mudah diperoleh di dalam negeri namun sulit distandardisasi dan rawan cemaran. Bahan alam juga memberikan reaksi yang lambat namun konstruktif, bekerja menuju sumber penyakit. Meskipun lebih mahal, bahan alam relatif lebih aman dengan aroma dan warna yang lebih ringan, serta memiliki lebih dari satu efek terapi meskipun data ilmiah dan uji klinis masih terbatas.
Materi yang disampaikan mencakup alur pengembangan produk bahan alam mulai dari ide, konsep produk, studi kelayakan, formulasi, skala pilot, pengujian, registrasi, komersialisasi, hingga evaluasi. Peserta juga diajak memahami proses ekstraksi, yaitu pemisahan zat aktif dari simplisia nabati atau hewani.
Acara ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait peran tenaga farmasi tentang proses produksi bahan alam di industri farmasi, mulai dari hulu hingga hilir, serta mampu menerapkan prinsip ekstraksi secara tepat dalam praktik kefarmasian.
“Proses ekstraksi merupakan tahap penting dalam bidang farmasi untuk memperoleh senyawa aktif dari bahan alam. Oleh karena itu, tenaga farmasi diharapkan mampu memahami prinsip, metode, serta faktor-faktor yang memengaruhi proses ekstraksi agar dapat menerapkannya secara tepat,” demikian salah satu pesan yang disampaikan dalam kuliah praktisi tersebut. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif antara peserta dan narasumber.
Pada hari Jumat, 29 Maret 2024 telah dilaksanakan acara kolaborasi...
Untuk menjamin kualitas tenaga teknis kefarmasian dalam berprofesi, pemerintah telah...
Balikpapan (26/4). , Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Samarinda bersama...
Jalan Abdul Wahab Syahrani No. 226 Kota Samarinda, Kalimantan Timur, 75242
Telp: 0811 5576 817
Email: [email protected]